Showing posts with label Morgan Freeman. Show all posts
Showing posts with label Morgan Freeman. Show all posts

Review: Ben-Hur (2016)


"Racing is a blood sport, if you lose, you die."

Rilis 57 tahun yang lalu, meraih 12 nominasi Oscars dan hanya kalah di satu kategori saja dan membuatnya menjadi film peraih Oscars terbanyak selama hampir empat dekade sebelum akhirnya disamai oleh Titanic di tahun 1997, “Ben-Hur (1959)” dianggap sebagai one of the greatest films ever made terutama pada genre religious. Dengan pencapaian memukau yang diraih oleh satu dari lima film adaptasi novel Ben-Hur yang telah eksis sebelumnya itu pertanyaan utama yang muncul adalah apa yang ingin dilakukan dan dicapai oleh film ini yang disebut sebagai re-adaptation, reimagining, and new interpretation of the novel? Dengan teknologi terkini tentu saja visual akan terasa lebih baik, tapi hanya itu? A shallow re-adaptation, reimagining, new interpretation of the novel and remake for the classic one, it’s a $100 million C-movie. Oscars worthy? Hah.

Review: Now You See Me 2 (2016)


“The greatest magic trick ever created.”

Anggapan bahwa sebuah sajian yang thrilling harus memiliki "kehebohan" dalam presentasi yang bergerak cepat tidak sepenuhnya salah, namun tanpa “konteks” yang menarik di dalamnya tidak peduli seberapa heboh dan cepat gerak yang ia hasilkan sajian tersebut akan begitu mudah pula untuk terasa kosong. Mereka yang telah menyaksikan Now You See Me tentu akan paham atau mengerti bahwa Now You See Me 2 in the end punya potensi akan kembali berakhir sebagai sebuah rencana “cheat” atau manipulasi dengan menggunakan magic yang mencoba tampak luar biasa. Hal tersebut memang kembali terjadi di sini, namun kali ini in a bad way. Now You See Me 2 adalah another bullshit yang lebih “heboh” dan arogan.

Review: London Has Fallen (2016)


"Your president dies tonight."

Berhasil meraih pendapatan $161 juta dengan menggunakan budget sebesar $70 juta tentu saja bukan sebuah pencapaian yang buruk bagi Olympus Has Fallen terlebih untuk ukuran sebuah action thriller dengan formula generik. Namun menariknya para produser seperti punya pandangan berbeda terhadap sekuel dengan hanya memberikan modal $60 juta. Mencoba mengulang kembali kesuksesan finansial dengan modal kecil atau justru rasa percaya diri akan peluang meraih sukses yang kini telah kecil? Tidak hanya punya power kuat untuk membuat kamu bertanya “hanya itu?” ketika telah selesai, London Has Fallen juga memiliki peluang kuat untuk menjadi film terbaik tahun ini versi Donald Trump.  

Movie Review: Ted 2 (2015)


"There are no chicks with dicks, Johnny, only guys with tits."

Jika memakai pengandaian, Ted itu seperti ketika anda bersama sahabat yang konyol dan sedikit gila mengendarai kereta di atas rel yang letak atau posisinya sering kali berada di tempat-tempat berbahaya, seperti di tepi jurang misalnya, terus bergerak dengan cepat naik dan turun. Bagaimana dengan Ted 2? Masih bersama sahabat yang konyol dan gila tadi namun kali ini posisi rel berada di topografi yang begitu “tenang” dan jauh dari kesan berbahaya, seperti di dalam kota misalnya, masih bergerak cepat tapi tidak naik dan turun. Ted 2: just a "super" modest effort.

Movie Review: Lucy (2014)


"Ignorance brings chaos, not knowledge."

Film yang mencoba tampil variatif atau berwarna dalam menghibur dan juga bercerita tentu saja merupakan sebuah film yang menyenangkan, namun hal tersebut juga didampingi oleh sebuah syarat yang penting, konsistensi dan fokus mumpuni yang tidak setengah hati. Film ini mengalami hal tersebut, film terbaru dari salah satu ahli dalam menulis film action, Luc Besson. Lucy, sci-fi potensial yang jatuh perlahan.

Review: Lucy (2014)


"There are more connections in the human body than there are stars in the galaxy."

Semoga saja kamu belum bosan melihat wajah Scarlett Johansson tahun ini, karena setelah memberikan suaranya di film dengan sentuhan sci-fi dan fantasy berjudul Her wanita seksi satu ini telah tampil di tiga buah film lainnya, dua diantaranya juga berada di genre tadi dimana ia sukses memberikan penampilan yang mencuri perhatian. Nah, film ini memetik keuntungan dari kemampuan ScarJo kembali melakukan hal tadi, Lucy, pelengkap trilogy science fiction dan fantasy pribadi Scarlett Johansson tahun ini. 

Movie Review: Transcendence (2014)


"Humans are born, not programmed."

Anda pasti pernah mendengar prediksi yang mengatakan beberapa puluh tahun dari sekarang manusia tidak hanya akan bersaing dengan sesama manusia, melainkan juga teknologi yang mereka ciptakan. Positif dan negatif hadir pada obsesi manusia untuk terus bergerak maju, eksplorasi ilmu pengetahuan yang dapat menciptakan mahakarya namun dapat pula menghadirkan bencana. Isu tersebut yang dibawa oleh film ini, mempermainkan simbiosis antara manusia dan teknologi, seolah mengajak penonton untuk berseru “let’s set the limit.” Transcendence, clever ideas in tangled structure. It should be a love story.

Movie Review: The Lego Movie (2014)


“Everything is awesome. Everything is cool when you’re part of a team.”

The easiest way to make yourself become a king: playing with Lego. Hal tersebut pernah saya rasakan dahulu, bermain dengan banyak balok kecil untuk menciptakan bentuk-bentuk unik, permainan penuh eksperimen yang menuntut kreatifitas dan imajinasi untuk membangun fantasi yang kita miliki, semua dilakukan dengan bebas karena mereka berada dibawah kendali kita. Sangat menyenangkan, dan semakin menyenangkan ketika bagian dari memori itu kini hidup dan bergerak, menyaksikan apa yang dahulu pernah kita lakukan. The Lego Movie, a very entertaining random satire parade in Lego World.

Movie Review: Last Vegas (2013)


"You can't tell women who to love."

Ada begitu banyak hal yang tidak dapat anda beli dengan uang, salah satunya adalah relationship (tidak peduli itu cinta dua arah ataupun persahabatan) yang sudah berjalan dan terus bertahan dalam rentang waktu yang sangat lama. Ya, sangat mengagumkan ketika hal tersebut sudah bermain dalam hitungan dekade, penuh gesekan namun selalu ada tawa. Last Vegas mencoba menggambarkan hal tersebut, ketika Sex and the City dan The Best Exotic Marigold Hotel berkombinasi bersama Grown Ups, kemudian berjalan dengan cara The Hangover.

Movie Review: Now You See Me (2013)


"Look closely, because the closer you think you are, the less you’ll actually see."

Kalimat tersebut sebenarnya punya sebuah tugas yang sangat besar, sebagai bentuk dari peringatan dini atau mungkin petunjuk film ini kepada calon penontonnya pada cara terbaik untuk dapat menikmati suguhan yang akan ia berikan. Layaknya aksi sulap, mereka ingin agar anda tidak terlalu serius meskipun akan ada balutan tema heist didalamnya. Ya ya, don't take it too serious, he said. Oke, i'll take it lightly, i said from beginning. But, seriously, it was a farce, gentlemen.

Movie Review: Oblivion (2013)


Berbeda genre, beda pula perlakuan yang harus anda berikan dalam menilai baik dan buruknya paket yang ditawarkan oleh sebuah film. Jika saya menilai komedi dilihat dari sukses tidaknya ia membuat saya tertawa, dan siap dengan hal bodoh dan konyol, horror diukur dari tingkat keberhasilannya dalam menakut-nakuti saya, lain pula dengan Sci-fi, dimana saya secara khusus selalu menarik peran cerita sedikit lebih kebelakang, dan lebih mengharapkan sebuah inovasi baru yang mampu membawa saya ikut berimajinasi dalam konteks yang lebih ilmiah ketimbang sebuah fantasi.

Movie Review: Olympus Has Fallen (2013)

 

Anda tentu sudah tahu bagaimana gencarnya salah satu negara di semenanjung Korea, yang melakukan riset dan menyatakan bahwa mereka telah menyiapkan senjata nuklir sebagai benteng utama mereka. Kita juga tahu bahwa Amerika Serikat adalah negara adidaya, negara yang seolah menjadi pemimpin dunia, dan berdampak pada jumlah musuh mereka yang juga tidak sedikit. Nah, pernahkah anda membayangkan pusat pemerintahan USA jatuh dengan semua pertahanan canggih yang ia miliki? White house, the most protected building in the world has fallen.

Movie Review: The Dark Knight Rises (2012)


Batman (Christian Bale) memang telah pensiun dari tugasnya menjaga kedamaian kota Gotham, namun masih dianggap sebagai penyebab utama kematian jaksa Harvey Dent. Karena itu Bruce Wayne lebih memilih berdiam diri di kediamannya bersama pelayan setianya Alfred (Michael Caine). Namun itu semua berubah setelah kedatangan Bane (Tom Hardy), mantan rekan Ra's Al Ghul (Liam Neeson), bersama pasukannya melancarkan terror brutal ke kota Gotham yang telah aman sepeninggal Joker dan Two Face.