Showing posts with label Scarlett Johansson. Show all posts
Showing posts with label Scarlett Johansson. Show all posts

Movie Review: Black Widow (2021)

“Pain only makes us stronger.”

Sejujurnya buat saya kemunculan film ini terasa sedikit aneh, setelah sekian lama dinantikan film standalone bagi salah satu karakter wanita di ‘The Avengers’ itu justru hadir setelah penonton tahu bagaimana Natasha sacrifice herself di ‘Avengers: Endgame’ dan berujung kematian. Mengapa memberikan backstory yang tentunya akan berisikan eksplorasi terhadap masa lalu bagi karakter yang mungkin tidak akan lagi berpartisipasi dalam future films the Marvel Cinematic Universe dalam kapasitas yang penting? Well, tidak ada yang abadi dan Marvel Studios sangat paham akan hal itu, dan lewat film ini mereka justru membuka pintu baru bagi karakter Black Widow. ‘Black Widow’ : a cute family drama comedy.


Movie Review: Marriage Story (2019)


“You should've considered my happiness too.”

Jika di dalam sebuah hubungan sepasang kekasih memiliki karakter yang sama-sama “keras kepala” maka sangat mudah untuk menebak apa yang akan terjadi selanjutnya, yaitu timbulnya gesekan dan pertengkaran. Keduanya childish, keduanya egois, keduanya sama-sama tidak mau mengalah, jika hal-hal tersebut terus dipertahankan maka kedamaian akan sulit ditemukan di dalam hubungan tersebut. Atau mungkin bisa ditemukan, terus berlanjut hingga ke jenjang pernikahan hingga pada akhirnya bertemu dengan sebuah ledakan besar, yaitu perceraian. ‘Marriage Story’ : an intimate story about love and marriage. Beautiful.

Movie Review: Jojo Rabbit (2019)


“Not everyone is lucky enough to look stupid.”

Ada banyak materi cerita yang sebenarnya ada di kategori "riskan" untuk diceritakan kembali ke dalam bentuk media film, apalagi jika digunakan sebagai bahan utama komedi penuh lelucon. Salah satunya adalah Adolf Hitler, sosok penguasa Jerman dan pemimpin Partai Nazi, pria radikal yang telah dikenal dengan image “kejam” mungkin hampir di seantero dunia. Bagaimana jika Adolf Hitler digunakan sebagai lelucon, di film ini ia bahkan dilabeli sebagai "pathetic little man who can't even grow a full mustache." ‘Jojo Rabbit’ : a good anti-hate satire comedy. 

Movie Review: Avengers: Endgame (2019)


“I love you 3000.”

Kedigdayaan Thanos di Avengers: Infinity War tidak hanya sekedar meninggalkan cliffhanger yang sangat besar bagi The Avengers namun juga pekerjaan rumah bagi semua sosok di balik layar film berikutnya. Sederhananya, Infinity War menciptakan situasi yang sangat hectic dan pertanyaan berikutnya bagaimana dan ke arah mana perjuangan dari petualangan The Avengers selama ini itu akan diurai serta berakhir? Avengers: Endgame : a big and ambitious finale.

Movie Review: Sing [2016]


"Rah-rah-ah-ah-ah! Roma-ro-ma-ma!"

Pada film kedua mereka di tahun ini Illumination Entertainment kembali bermain dengan formula andalan mereka, yang jika meminjam salah satu kalimat dari Agnes di 'Despicable Me' Illumination Entertainment selalu berusaha agar animasi yang mereka produksi terasa so fluffy. Being a bit complex bukan ciri khas Illumination Entertainment, sama seperti para minions mengandalkan segala kekonyolan klasik a la Looney Tunes seperti menjadi hal paling penting di dalam buku pedoman Illumination Entertainment yang harus para sutradara mereka baca. Hal tersebut kembali dilakukan oleh film ini, Sing, kombinasi antara talking animals bersama talent show. Playing like citizens of Zootopia doing a karaoke it feels like The Voice rather than Idol.

Review: The Jungle Book (2016)


"The jungle is no longer safe for you."

The Jungle Book merupakan kumpulan cerita yang timeless, cerita yang ketika kamu baca kembali masih akan terasa menarik dan semakin tinggi jenjang usia ketika kamu membacanya maka akan semakin luas pula kerangka acuan serta perspektif yang akan kamu temukan dan rasakan, dari tradisi, ketekunan, kesetiaan, keberanian, kehormatan, hingga integritas. From the director who brought you Iron Man eight years ago film ini berhasil melakukan reimagining The Jungle Book kedalam presentasi yang tidak hanya hanya sekedar proporsional dalam konteks cerita namun juga menjadi sebuah petualangan gelap dan terang yang thrilling serta eye candy.

Review: Hail, Caesar! (2016)


"Would that it were so simple?"

Hail, Caesar! merupakan sebuah usaha dari Coen Brothers menggabungkan dua keahlian mereka dalam tampilan yang lebih kearah style. Keahlian Coen Brothers bukan hanya menciptakan kisah yang terasa “manusia” dengan menggunakan kesan nihil yang konsisten, mereka juga ahli dalam membuat yang sederhana tampak kompleks, dan yang kompleks tampak sederhana. Berikan sebuah kisah kejahatan di panggung utama, temani dengan berbagai warna lain termasuk lelucon tepat guna, Hail, Caesar! merupakan komedi, melodrama, noir, epic, serta sebuah showbiz yang cepat dan cerdas, nakal dan sinting.

Review: Avengers: Age of Ultron [2015]


"Isn't that the why we fight? So we can end the fight and go home?"

Perjuangan yang sedang dilakukan oleh Marvel sebenarnya bukan cuma pada usaha untuk memperluas cinematic universe milik mereka yang tahun ini resmi mengakhiri fase keduanya, tapi disisi lain Marvel juga terus berusaha mempertahankan standard yang telah mereka raih untuk kemudian naik ke level selanjutnya. Usaha tersebut yang terasa menarik karena ciri khas sebagai fun superhero yang telah lekat dengan mereka justru menjadikan film-film rilisan Marvel perlahan terasa serupa tapi tak sama. Avengers: Age of Ultron seperti sebuah déjà vu yang celakanya masih mampu berdiri tegak karena diramu dengan cermat.

Movie Review: Lucy (2014)


"Ignorance brings chaos, not knowledge."

Film yang mencoba tampil variatif atau berwarna dalam menghibur dan juga bercerita tentu saja merupakan sebuah film yang menyenangkan, namun hal tersebut juga didampingi oleh sebuah syarat yang penting, konsistensi dan fokus mumpuni yang tidak setengah hati. Film ini mengalami hal tersebut, film terbaru dari salah satu ahli dalam menulis film action, Luc Besson. Lucy, sci-fi potensial yang jatuh perlahan.

Review: Lucy (2014)


"There are more connections in the human body than there are stars in the galaxy."

Semoga saja kamu belum bosan melihat wajah Scarlett Johansson tahun ini, karena setelah memberikan suaranya di film dengan sentuhan sci-fi dan fantasy berjudul Her wanita seksi satu ini telah tampil di tiga buah film lainnya, dua diantaranya juga berada di genre tadi dimana ia sukses memberikan penampilan yang mencuri perhatian. Nah, film ini memetik keuntungan dari kemampuan ScarJo kembali melakukan hal tadi, Lucy, pelengkap trilogy science fiction dan fantasy pribadi Scarlett Johansson tahun ini. 

Movie Review: Under the Skin (2014)


Film-film seperti Under the Skin sebenarnya masuk kedalam kategori “not to miss”, mengapa, alasannya sederhana, karena ia seperti udara di pegunungan yang akan memberikan sensasi segar dan menyejukkan bagi penonton yang selama ini hidup di gegap gempita perkotaan. Ada pengalaman berbeda yang coba ia tawarkan tapi tentu saja dengan resiko yang berasal pula dari dua opsi, hit or miss. Under the Skin, an ambiguous and calm hypnotic adventure with beautiful alien.

Review: Under the Skin (2014)


Setiap penonton pasti punya persepsi yang berbeda, dan bagi saya menonton film itu adalah hiburan dimana kita datang, duduk, kemudian terjebak dalam cerita, dan pulang dengan rasa kesal atau gembira. Sederhana, tidak penting dia memakai konsep menemukan jawaban dari pertanyaan atau justru meninggalkan pertanyaan itu dengan pertanyaan baru lainnya, karena yang terakhir tadi justru lebih sering membekas di hati. Contohnya? Holy Motors, seni eksperimental yang abstrak serta berdiri di antara art house dan mainstream, love it or hate it. Under the Skin juga begitu, hipnotis yang manis. 

Movie Review: Chef (2014)


"Starting from scratch never tasted so good."

Meskipun kecil Chef bukan sebuah langkah mundur dari Jon Favreau setelah sebelumnya menjadi sutradara film dengan budget besar seperti Iron Man dan Cowboys & Aliens, serta menjadi bagian dari tim produksi The Avengers. Dapat dikatakan Chef menjadi tempat bagi Jon Favreau untuk sejenak mencari udara segar dari gegap gempita hubungannya dengan Marvel, mengambil tema makanan serta permasalahan utama pada koki untuk menciptakan perjalanan bersenang-senang bersama makanan yang terasa hangat dan santai, tapi juga memiliki isi yang menarik sehingga tidak sekedar menjadi sebuah food eye candy.   
 

Movie Review: Captain America: The Winter Soldier (2014)


"You have to keep both eyes open."

Musuh datang, bertarung penuh kehancuran, dan menang, sebuah sistem yang sepertinya telah menjadi template dari tamasya film superhero, hadirkan kisah yang ringan dan bantu dengan suguhan aksi beserta visual yang mengesankan. Sangat sedikit yang berani bermain bersama penceritaan dalam nada gelap yang rumit dan kompleks, yang kemudian menyebabkan kehadiran “mereka” menjadi sesuatu yang segar bahkan memorable. Marvel Cinematic Universe coba menerapkan hal tersebut pada Phase Two, dan tidak seperti film pertamanya kali ini kembali dengan status penutup film mandiri Captain America berhasil meraih posisi terdepan. Captain America: The Winter Soldier, the bravest and important movie in Marvel Cinematic Universe so far with good vibrant in solid and smooth action espionage. One of the best Marvel movies.

Movie Review: Her (2013)


"I'm yours and I'm not yours."

Apakah anda merupakan pengguna twitter? Apakah anda pernah menemukan sebuah halaman yang menyatakan bahwa twitter sedang kelebihan kapasitas ketika hendak mencoba sign in? Yap, semakin mudah memang untuk bercinta dengan teknologi di zaman yang serba menawarkan kemudahan seperti sekarang ini, banyak hal positif yang ia ciptakan, namun dibalik kenikmatan tersebut ikut pula eksis berbagai hal negatif yang berpotensi menghancurkan. Spike Jonze menghadirkan problema tersebut bersama balutan visi, ide, serta konsep yang tinggi dan berani, unik dan cantik. Her, a sweet and smart hyper intelligent love story.    

Movie Review: Don Jon (2013)


Hasrat akan seks sebenarnya bukanlah hal yang tabu, karena secara ilmiah kehadirannya merupakan sesuatu yang wajar. Jangan naïf, bukan hanya para pria, wanita sesungguhnya juga punya hal tersebut dalam level yang sama, karena ketika energi sedang membara salah satu solusi terbaik adalah dengan melampiaskannya. Don Jon coba bermain di tema itu, namun ini sedikit berbeda, bukan hanya film yang sebatas menggunakan materi pornografi untuk menjadi sebuah crowd-pleasure, ini drama komedi penuh ironi yang menggelitik dan menyenangkan. (Warning: review contains strong language)

Movie Review: Vicky Cristina Barcelona & Two Lovers




Vicky Cristina Barcelona (2008)

Film arahan Woody Allen ini bercerita tentang dua sahabat, Vicky (Rebecca Hall) dan Cristina (Scarlett Johansson) yang menghabiskan liburan di kediaman orang tua Vicky, Mark (Kevin Dunn) dan Judy (Patricia Clarkson) di Barcelona. Vicky adalah wanita yang sangat tertarik dengan seni, sedangkan Cristina di bidang fotografi. Ketika menyaksikan pameran lukisan, muncul seorang pria berbaju merah yang menarik perhatian mereka, Juan Antonio (Javier Bardem). Pria inilah yang membawa Vicky dan Cristina “berpetualang” di masa liburan mereka.

Movie Review: The Avengers (2012)


Bravo!!! Itulah yang saya ucapkan ketika film berakhir. Bagi saya, film ini sukses. Enam superhero bergabung dalam satu tim, awalnya saya ragu film ini bisa sesukses ini. Dengan Captain America, Iron Man, Thor, Hulk, Black Widow, dan Hawkeye, film ini memiliki potensi menjadi sangat sukses atau malah sebaliknya. Untungnya mereka menjadi satu paket yang pas dimata saya. Mereka sukses mengisi satu sama lain, meskipun pertengkaran tidak dapat terelakkan.